Friday, November 8, 2013

Perbedaan Autisme dan Down Syndrome

Perbedaan Autisme dengan Down Syndrome

Definisi Autisme
        Banyak kesalahpahaman mengenai pengertian autisme yang sebenarnya. Autisme merupakan suatu kumpulan sindrom karena adanya kerusakan syaraf dan menggangu perkembangan anak. Hal ini terlihat dari gejala-gejala yang tampak, misalnya penyimpangan perkembangan (Wijayakusuma, 2005).
     Autisme bukanlah penyakit disebabkan oleh virus atau kuman, melainkan suatu gangguan perkembangan. Autisme sebelumnya disebut autisme invantil, kemudian autisme dipersingkat oleh awam menjadi autis. Istilah lain dari adalah spectrum disorder karena gejalanya sangat variatif. Ada beberapa jenis autisme yang disebabkan oleh gejalanya yang variatif, antara lain (a) hiperaktif dan hipoaktif, (b) yang suka menyerang, dan (c) yang suka menyakiti diri sendiri. Tidak semua anak autis bodoh, ada juga yang pintar (Setyo, 2008).  

Diagnostik dan Kriteria Autisme
     Dalam DSM-IV-TR (2000) disebutkan salah satu diagnostik tehadap autisme yaitu “fungsi intelektual dibawah rata-rata secara signifikan: IQ kurang lebih sekitar 70 atau dibawahnya pada individu yang diberikan test IQ” (h. 33). Simtom pada pengidap autisme antara lain (a) tidak mampu menjalin interaksi sosial yang memadai, (b) bicara terlambat atau sama sekali tidak berkembang, (c) keterbatasan komunikasi, (d) lamban belajar bahasa dan kerap kali menggunakan bahasa aneh yang diulang, (e) hiperaktif, (f) sensitif terhadap suara, dan (g) sering berteriak, berbicara, tertawa, atau menangis sendiri (Wijayakusuma, 2005, h. 11)
.
Definisi Down Syndrome
     Wijayakusuma (2005) mengatakan “Down Syndrome adalah gangguan perkembangan yang bersifat medis dan secara tipikal bukan hanya menjadikan anak memiliki abnormalitas secara fisik melainkan juga secara mental” (h. 8).
     Menurut Smith, Bierman, dan Robinson (dikutip dalam Davidson, Neale, & Kring, 2006) down syndrome (sindroma Down) disebabkan oleh adanya abnormalitas genetik atau kromosom. Sindroma Down pertama kali ditemukan oleh dokter Inggris bernama Langdon Down pada tahun 1866. Jerome Lejeune, seorang ahli genetika Perancis kemudian mengidentifikasi dasar genetikanya pada tahun 1959 dan ditemukan bahwa:
Manusia secara normal memiliki 46 kromosom, sejumlah 23 diturunkan oleh ayah dan 23 lainnya diturunkan oleh ibu. Para individu yang mengalami sindroma Down hampir selalu memiliki 47 kromosom bukan 46. Ketika terjadi pematangan telur, dua kromosom pada pasangan kromosom 21, yaitu kromosom terkecil, gagal membelah diri. Jika telur bertemu dengan sperma, akan terdapat 3 kromosom 21 – yang istilah teknisnya adalah trisomi 21. (h. 711)
    Pengidap sindroma Down ini cenderung mengalami retardasi/keterbelakangan mental yang sedang hingga parah (Davidson, Neale, & Kring, 2006). Sindroma Down sering disebut Mongoloid. Hal ini disebabkan oleh kesamaan bentuk wajah setiap pengidap kelainan ini, yaitu seperti orang Mongol (Setyo, 2008).

Ciri dan Karakteristik Down Syndrome
     Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, anak-anak pengidap sindroma down memiliki bentuk dan karakteristik wajah yang serupa. Seperti orang-orang Mongol. Ciri dan karakteristik khusus pada fisik anak dengan sindroma down antara lain (a) abnormalitas pada tengkorak, (b) dagu lebar dan rata, (c) jarak lebar antara kedua mata, (d) kedua lubang hidung terpisah lebar, (e) kelopak mata memiliki lipatan epikantus, (f) leher pendek, (g) lengan atau kaki terkadang bengkok, (h) mulut selalu terbuka, (i) tangan dan kaki terlihat tumpul dan lebar, (j) tubuh pendek, dan (k) ujung lidah besar (Wijayakusuma, 2005, h. 9).

Jenis-Jenis Down Syndrome
     Trisomi 21. Trisomi 21 adalah jenis yang paling sering ditemukan pada sebagian besar anak dengan sindroma down. Trisomi 21 artinya pada kromosom nomor 21 terdapat tiga buah kromosom.
     Translokasi. Terdapat 4% dari kasus sindroma dwown yang berjenis translokasi. Jenis ini biasanya terjadi karena adanya salah satu orangtua sebagai pembawa gen sindroma down walaupun orangtua ini bukan pengidap sindroma down. Penyebabnya adalah kromosom dari orangtua yang masih tetap berjumlah 23 tapi pada salah satu kromosomnya, nomor 21, melekat dengan satu kromosom lainnya.
     Mosaik. Hanya 1% dari anak-anak pengidap sindroma down yang termasuk jenis mosaik. Anak pengidap sindroma down dengan jenis mosaik terlihat lebih normal dan mampu memiliki kemampuan intelektual yang baik (Duhita, 2013).

Perbedaan antara Autisme dan Down Syndrome
     Down syndrome disebabkan oleh adanya kelainan kromosom karena pada saat pembuahan ada kromosom milik ayah atau ibu yang tidak terbelah atau tidak menempel di pasangan kromosomnya yang sesuai. Sedangkan autisme bukan disebabkan adanya kelainan kromosom, namun karena adanya kelemahan genetik. Pada beberapa kasus, autisme bisa saja disebabkan oleh keadaan negatif dari lingkungannya (Setyo, 2008).

Simpulan
    Autisme dan down syndrome merupakan dua gangguan masa kanak-kanak yang jelas sangat berbeda. Autisme merupakan gangguan perkembangan yang bukan disebabkan oleh kelainan kromosom atau penyakit dan dapat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar. Sedangkan down syndrome adalah gangguan yang terjadi karena adanya kesalahan kromosom dalam proses pembelahan, bukan karena pengaruh lingkungan sosialnya. Perbedaan antara autisme dan down syndrome juga dapat terlihat jelas secara visual, yaitu adanya perbedaan tampilan fisik dibandingkan anak-anak normal. Terdapat tiga jenis sindroma down, yaitu (a) trisomi 21, (b) translokasi, dan (c) mosaik.

Daftar Pustaka
American Psychiatric Association. (2000). Diagnostic and statistical manual of mental disorders. (4th ed., text revision). Washington, DC: Author.
Davidson, G. C., Neale, J. M., & Kring, A. M. (2006). Gangguan di masa kanak-kanak. Psikologi abnormal (edisi ke-9) (N. Fajar, Penerj.). Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Duhita, O. (2013). Cahaya hidupku: Kisah inspiratif yang menyentuh hati tentang suka duka merawat serta membesarkan anak dengan Sindroma Down. Jakarta: Dian Rakyat.
Setyo, N. A. (2008, 30 April). Mungkinkah autisme disembuhkan? Diunduh dari http://www.kemsos.go.id/modules.php?name=News&file=print&sid=633
Wijayakusuma, H. M. H. (2005). Anakku sembuh dari autisme (edisi ke-4). Jakarta: Dyatama Milenia.

Friday, November 1, 2013

MEROKOK

Merokok

Definisi Merokok
     Rokok adalah daun-daun tembakau yang digulung kertas. Merokok adalah kegiatan menghisap daun-daun tembakau dalam kertas itu dan membuang asap yang dihirup melalui mulut atau hidung. Sebelum dihisap, salah satu ujung rokok dibakar dengan api dan dihisap di ujung lainnya. Sebutan bagi orang yang merokok adalah perokok. Bagi perokok, kenikmatan pada saat merokok dapat menjadi candu yang membutakan dan merugikan.

Kandungan Kimia dalam Rokok
     Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, didalam rokok terdapat bahan utama yaitu daun tembakau. Daun tembakau ini dicacah halus dan dikeringkan sebelum digulung dalam kertas dan dicampur bahan lain. Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam rokok diantaranya (a) nikotin, (b) tar, dan (c) karbon monoksida. Pertama, nikotin, adalah substansi kimia yang secara alami terdapat dalam tembakau dan asap tembakau. Nikotin adalah substansi beracun dan sangat adiktif (menyebabkan ketagihan) (Lopes & Ehlers, 2008).
     Kedua, tar, cairan kental, berminyak, berwarna coklat gelap atau hitam. Kebanyakan tar didapatkan dari material organik seperti batu bara, atau kayu untuk bahan industri (Lopes & Ehlers, 2008). Ketiga, karbon monoksida, adalah gas tidak berwarna, tidak beraroma, tidak memiliki rasa, dan sangat beracun. Orang yang menghirup gas ini biasanya tertidur tanpa menyadari bahwa mereka teracuni karena gas ini tidak terlihat dan tidak tercium (Lopes & Ehlers, 2008)
     Bahan-bahan berbahaya ini tentunya akan langsung masuk kedalam paru-paru dan seluruh tubuh. Dilihat dari definisi beberapa kandungan kimia diatas, dapat disimpulkan bahwa rokok mengandung berbagai zat yang dapat mengancam kesehatan tubuh.

Kerugian dan Bahaya Merokok
     Bahaya dari merokok tidak hanya berdampak pada si perokok, tapi juga orang di sekitarnya yang secara tidak sengaja menghirup asap residu perokok. Orang yang merokok disebut perokok aktif, sedangkan orang yang secara tidak sengaja menghirup asap perokok aktif disebut perokok pasif.
     Merokok tentu saja merugikan dan berbahaya, terlebih pada ibu hamil atau yang memiliki penyakit tertentu. Kandungan tembakau dalam rokok berisi lebih dari 4.000 zat kimia, termasuk zat karsinogen penyebab utama kanker (Lopes & Ehlers, 2008).
     Beberapa efek samping/dampak negatif yang ditimbulkan adalah (a) serangan jantung/stroke, (b) gangguan pencernaan, (c) merusak gigi, gusi, kuku, bibir, dan kulit, (d) kanker, (e) impotensi, (f) penurunan nafsu makan, dan (g) keguguran pada janin (Syam, 2012). Kerugian-kerugian ini mungkin belum dirasakan di awal masa merokok, tapi penumpukkan kotoran-kotoran yang sudah lama dimulai akan mencetuskan terjadinya salah satu dampak diatas.
     Bagi perokok pasif kerugian besar juga tak terhindar. “Tidak tanggung-tanggung, asap rokok mengandung sekitar 4000 bahan kimia, dan 43 di antaranya bersifat karsinogen (menyebabkan kanker). Ironisnya, si perokok pasif yang menghirup asap rokok pun terkena dampaknya” (Yandra, 2013, para. 8). Dapat dilihat bahwa merokok tidak mendatangkan keuntungan apapun, dalam aspek apapun.
  
Daftar Pustaka
Lopes, J., & Ehlers, C. (2008). The World Book Encyclopedia C-Ch 3 (12th ed., pp 206-207). Chicago, USA.:  Author
Lopes, J., & Ehlers, C. (2008). The World Book Encyclopedia N-O 14 (12th ed., p. 405). Chicago, USA.:  Author
Lopes, J., & Ehlers, C. (2008). The World Book Encyclopedia.S-Sn 17 (12th ed., pp 520-521). Chicago, USA.:  Author
Lopes, J., & Ehlers, C. (2008). The World Book Encyclopedia T 19 (12th ed., p. 41). Chicago, USA.:  Author
Syam, A. F. (2012, 2 Juli). Dampak buruk rokok bagi kesehatan. Diunduh dari http://www.readersdigest.co.id/Sehat/Info%20Medis/dampak.buruk.rokok.bagi.kesehatan/005/001/188
Yandra, A. (2013, Oktober). Dampak merokok bagi perokok aktif maupun perokok pasif. Diunduh dari http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/10/26/dampak-merokok-bagi-perokok-aktif-maupun-perokok-pasif-605154.html